Pernah saya dimarahi seorang teman wanita satu organisasi suatu ketika. Alasannya karena saya menolak sarannya dengan mengatakan saya belum cukup ilmu untuk usulan agar saya mengajarkan satu materi kepada teman-teman yang lain. Dia dengan tegas mengatakan saya tidak mensyukuri nikmat yang saya punya. Saya cuma bisa tersenyum kecut.
Selama beberapa hari setelah saat itu saya masih keuheul dan mikir dengan keras jawaban tuduhan tidak berdasar itu. Saya tahu ada yang salah dengan konsepnya. Dan setelah beberapa hari itu akhirnya saya dapatkan rangkaian kalimat-kalimat untuk meng-counter konsepnya berikut ini.
‘Rendah hati, merasa tidak bisa (rumongso ora biso), tidaklah sama dengan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan. Ia sama seperti tidak samanya antara sombong dengan mengatakan kita bisa mengerjakan sesuatu. Dengan merasa tidak bisa bisa jadi malah kita terpacu untuk belajar yang lebih banyak, dan juga justru untuk menghindari sombong itu.
Tidak mensyukuri nikmat Allah adalah hal yang tidak bisa dikaitkan dengan merasa diri tidak mampu. Kita tidak tahu bagaimana hati orang yang mengatakan dia tidak mampu itu sendiri. Bisa jadi dia sangat mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya dengan semakin giat dalam berusaha untuk menambah dan memperbaiki nikmat yang sudah ada. Karena itu tidak sepantasnya kita menilai hati dan niat orang lain dengan yang tampak kelihatan oleh mata saja. Apatah lagi jika itu hanya menggunakan persangka kita. ’
Aha! Kalimat yang sempurna. Dan pasti teman saya tidak akan bisa membalas balik kalo saya menjawab dengan untaian kata-kata di atas. Tapi kenapa tidak keluar dan tidak terpikir di saat itu? Ah, makin keuheul saja saya.